Jumat, 18 Januari 2008

Cara Bijak mengatasi Diare pada Balita

Tahukah Anda bahwa diare yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 14 hari ?? Jadi berhati-hatilah, hindari pemakaian obat penghambat diare dan antibiotik

Selain demam berdarah dengue (DBD), tampaknya kita juga mesti mewaspadai ancaman lainnya, yaitu diare. Saat ini, di beberapa daerah di Indonesia, kasus diare kerap terjadi, utamanya pada anak balita. Dari data yang ada, ternyata tak semua balita yang terserang diare itu tinggal di daerah dengan sanitasi dan higiene yang buruk. Sebab, ada pula balita yang berasal dari keluarga yang lingkungannya bersih. Mengapa bisa begitu?
Diare merupakan gejala infeksi saluran pencernaan yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya, disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja. Pada keadaan sehat, buang air besar tapi kecil ini maksimal tiga kali dengan jumlah feses berkisar 100 - 300 g per hari. Bila jumlahnya lebih dari itu akibat banyaknya air dalam tinja, itu tandanya diare terjadi.

Penyebab diare, yaitu :

  1. rotavirus
  2. bakteri
  3. kurang gizi
  4. alergi
  5. tidak tahan terhadap laktosa

Namun di Indonesia, penyebab terbanyak adalah rotavirus. Apabila diare karena disebabkan rotavirus maka akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2 minggu atau 14 hari. Hal penting yang mesti diwaspadai pada anak yang menderita diare adalah kemungkinan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).

Langkah-langkah yang harus dilakukan apabila anak anda terkena diare, yaitu;

  1. Pemberian oralit harus dicairkan sesuai petunjuk penggunaan yaitu satu sachet oralit dicairkan ke dalam satu gelas air putih. Dijelaskan, oralit mengandung garam natrium. Bila bayi/anak terlalu banyak mengasup natrium, ia bisa mengalami kejang-kejang, cairan dalam otak keluar, dan lain-lain.
  2. Terapi makanan. Anak harus diberi makanan yang mengandung gizi dan susu. Kalau dia tidak tahan terhadap laktosa, berilah susu untuk pengobatan. Ini berbeda dengan anggapan orang zaman dulu. Kala itu, anak yang diare justru dipuasakan, diistirahatkan dulu ususnya. Sekarang hal seperti itu tidak dianjurkan. Anak boleh tetap makan, bahkan dianjurkan banyak minum. ''Makanan yang baik untuk anak diare adalah tempe, baik digoreng, direbus atau dibakar,''
  3. Jangan beri anak Anda obat antidiare. Yang harus dilakukan ketika anak diare adalah memberinya cukup cairan agar tidak sampai dehidrasi. Jadi, jangan cepat tergoda dengan obat diare. ''Obat diare, justru membuat usus bundet. Obat ini akan membuat kuman tidak keluar. Sebaliknya, kuman yang ada di dalam akan diserap, sehingga akan terjadi keracunan di seluruh tubuh.'' Pemberian antibiotik pada pasien diare juga tidak boleh sembarangan. Antibiotik hanya boleh diberikan pada pasien yang terkena infeksi, misalnya disentri. Biasanya anak yang menderita disentri, tinjanya bercampur darah. Namun, jika kotoran yang dikeluarkan berujud cair, bersih, tidak ada darahnya, berarti sekitar 60-80 persen disebabkan oleh rotavirus.
  4. Selalu menjaga kebersihan, cuci tangan dengan air dan sabun, serta menghindari kawasan-kawasan yang dilanda banjir. Tak kalah penting adalah memberi ASI sejak anak lahir. Mengapa begitu? ''Sebab, di dalam ASI terdapat antirotavirus. Makanya, anak-anak yang minum ASI eksklusif jarang menderita diare,''

Walau tampaknya sangat sederhana, oralit terbukti ampuh. Ini karena di dalam oralit terkandung natrium, kalium, dan zat-zat penting lain yang serupa dengan zat-zat yang ada di dalam tubuh. Karena itu, untuk penanganan diare, yang penting penderita jangan sampai kekurangan cairan. Bagaimana caranya agar si kecil yang tengah diare tak sampai kekurangan cairan? Yati menyarankan untuk sering memberinya oralit atau cairan lain yang biasa ada di dalam rumah tangga, seperti: air putih, air teh, sup, air tajin, air gula, dan sebagainya. ''Pokoknya, jangan sampai air yang keluar lebih banyak daripada yang masuk (diminum).''

Obat diare untuk anak yang aman :

  1. Obat Apotik : Lacto B , Kaopecten & Pedyalite
  2. Obat Tradisional : daun dan buah jambu biji, kunyit, daun dalam dll

sumber : http://www.republika.co.id oleh : Prof Dr dr Srisupar Yati Soenarto SpA, ketua staf medik fungsional Rumah Sakit DR Sardjito/Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM).

1 komentar:

ningsapto mengatakan...

iya aku pernah coba tapi gak manjur, mungkin ada yg salah meraciknya